Archive for September, 2005

Di Bawah Naungan Malam, Dan sekelebat Bayang Akan Sebuah Senyuman

Monday, September 26th, 2005

Berurai jalinan debu yang tadinya tertidur nyaman di lantai kayu tua itu. Sesaat lalu tengkorak kepalaku menghantamnya keras. Kini aku sekarat. Darah menetes dari ujung hidungku. Bergulir pelan dipipiku dari kedua sudut mataku. Pula telingaku.

Nafasku terhempas berat dan satu-satu.

Berat dan satu-satu.

Satu-satu.

Satu.

Satu.

Satu.

Suara itu makin jauh dan samar.

Harum itu dan amis kematian, tercampur sempurna.

Wajah itu asing kini.

Namun tidak senyumnya, kukenal sempurna.

Dua sudut bibir berangkat naik ke pelupuk pipi yang merona - manis.

Itu senyum yang menghantamku dan mengantarku pada detik kematianku.

Itu senyum yang mengajarkanku untuk tertawa - keras kita dulu tertawa, lalu mencabut sepenuhnya dari rongga trakea ku. Itu senyum yang mengajarkan mimpi padaku – selayak terbang di langit surga katamu, lalu lukai sayapku sempurna pada pangkalnya.

Senyum itu,,darah dalam daging koyakku.

Senyum itu_ _ _ _

Tidak…tidak…

Bukan senyum itu yang menghujamkan pedang di sayap mungilku yang baru tumbuh. Ia terlahir sempurna, sesempurna oksigen di dalam darahku.

Aku terlalu mencintaimu,,hingga tak sanggup menyalahkanmu.

260805

-13-

Cinta

Monday, September 26th, 2005

       Suatu malam, iseng aku bertanya pada Bunda, “Bunda, gimana kalo nanti misalnya aku memperistri wanita buta?” “Ah, jangan donk! Kamu ini aneh-aneh saja!”, jawab Bunda tanpa bisa menyembunyikan kekagetannya atas pertanyaanku.

      

       Suatu malam dilain waktu, kembali aku iseng bertanya pada Bunda, “Bunda, gimana kalo misalnya aku menikahi anak dari ibu yang pelacur dan ayah yang pembunuh?” Lagi-lagi tanggapan miring seperti dulu yang kuterima.

      

       Bunda tidak rela anaknya yang tampan ini , bermasa depan terbilang cerah, keturunan keluarga baik-baik yang hidup dilingkungan sosial bermartabat, memiliki istri yang “cacat”. Bunda tak pernah berhenti menilai sesuatu dari aksesoris pembungkusnya. Aku harus cari istri yang cantik katanya. Aku harus cari istri yang kaya katanya. Aku harus cari istri yang pintar katanya – pintar bagi bunda adalah sebatas ijazah kuliah. Aku harus cari istri anak orang terpandang katanya. Aku bilang itu tidak mungkin, bunda bilang itu mungkin. “Oom kamu saja bisa”, Bunda mencari pembenaran. – Oom ku orang rantau miskin yang dikejar-kejar anak salah satu pejabat Orde Baru – tentunya kaya raya - yang cantik jelita, dan akhirnya mereka menikah-.

   

      Bunda, entah kapan Bunda sadar, bahwa cinta sebenarnya cukup untuk cinta. Cinta tidak pernah mengenal rupiah ataupun dolar. Cinta tidak paham apa itu cantik atau tampan. cinta tidak punya syarat apa-apa untuk dicintai. Cinta hanya memberi. Cinta tak meminta ongkos pada kita. Aku tak butuh apa-apa darinya. Jika aku sudah cinta, mau dibilang giginya ompong kek, mau dibilang buntelan kentut kek, tetap saja dia cantik dimataku. Aku tak peduli jika ia anak seorang pembantu. Bahkan, aku tak peduli jika ia sudah tidak lagi perawan.

   

      Bunda, seperti cinta kita pada Tuhan. Pernahkah kita melihat seperti apa wajah-Nya? Pernahkah bunda dikasih berlian secara langsung, menerimanya langsung dari tangan Tuhan ? dari mana Bunda tahu bahwa Tuhan yang selama ini memberi kita makan? Darimana Bunda tahu bahwa Tuhan itu benar-benar ada? Jangan-jangan Tuhan hanya ada dalam imaji kita? Lalu mengapa kita tetap mencintainya? Mengapa kita tetap menangis berkeluh kesah dan memohon sesuatu padanya? Karena cinta itu buta, Bunda. Cinta hidup di dalam hati, bukan logika. Cinta, seperti halnya Tuhan, tak butuh alasan untuk dipertanyakan eksistensinya.

   

      Bunda, Cinta tidak dikenal oleh indera kita. Mata kita tak dapat melihatnya. Telinga kita tak dapat mendengar suara bisikannya. Kulit kita tak dapat merabanya. Hidung kita tak dapat membauinya. Lidah kita tak dapat merasakannya. Bunda, cinta itu ada didalam hati, di palungnya yang paling dalam. Bukankah Rumi telah mengatakannya pada kita bahwa mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan? Maka buat apa kita mencari sesuatu dengan mata kita, toh kelak yang akan kita dapatkan hanya 1/70 nya saja dari kebenaran yang kita cari. Jadi Bunda, tak usah Bunda khawatirkan dengan siapa kelak anakmu ini akan berjodoh. Jika aku menerimanya apa adanya, maka tak ada alasan bagiku untuk tidak bahagia. Bukankah itu yang Bunda harapkan selama ini, agar anak Bunda ini bahagia kelak? Aku hanya minta satu hal dari Bunda, selalu do’akan aku agar cintaku pada seseorang atau sesuatu, tidak melebihi cintaku pada Tuhanku. Semoga kita selalu dalam naungannya ya Bunda,,,Amiin,,,

                                                                  

                                                                                           September ‘05

Selapis Tipis

Monday, September 26th, 2005

Selapis tipis lensa mataku, jika itu bisa dipercaya. Selapis tipis yang menjerumuskan silau kedalam kekecewaan. Apa yang bisa kupercaya? Selapis tipis yang membaui neraka ibarat surga Apa yang bisa kupercaya?

                                                   

Selapis tipis lensa mataku, aku tak ingin lagi percaya. Selapis tipis yang memalsukan cahaya kedalam senyuman. Apa yang bisa kupercaya? Selapis tipis yang mewujudkan pisau ibarat sayap Sang Jibril. Apa yang bisa kupercaya?

Jika cinta itu buta, aku lebih memilih menjadinya. Apa yang kupercaya tak kupertaruhkan di selapis tipis lensa mataku. Dalam gelap, matahati adalah pelita.

Maka cinta itu buta, karena ia bersemayam di matahati.

Maka cahaya di selapis tipis lensa mataku tingal sejarah, karena cinta itu murni.

Untuk Pemilik Nama Pada Sebuah Nisan

Monday, September 26th, 2005

Apa kabar kafan yang balut jasadmu?

Mungkin sedikit hangus disana-sini.

Apa kabar keangkuhanmu?

Mungkin ia menangis di sudut kubur kini.

Apa kabar pertanyaan itu?

Masihkah ia datang dengan gelegar suara yang dahsyat?

Masihkah mahluk menyeramkan hitam kebiru-biruan yang mengawalnya?

Apa kabar pertanyaan itu?

MAN RABBUKA?!

M A N    R A B B U K A ?!

          . . . . . . . . .

Apa kabar bibir dan lidahmu?

Apakah ia kelu dan membisu?

Dan apa kabar aku yang kau tinggalkan?

Mungkin aku akan selalu menangis

Mengharap kemurahan-Nya..

Agar Munkar dan Nakir didatangkan padaku

Dengan sesungging senyum di bibir mereka.

Agar Munkar dan Nakir menyapa ku ramah,

“Assalamu’alaika, ya hamba Allah.”

Agar Munkar dan Nakir menanyaiku

dengan suara yang lembut lagi bersahabat.

Allahuma as ‘aluka khusnul khatimah,,

Allahuma as ‘aluka khusnul khatimah,,

18805

-13-

-Perihal Sebuah Mimpi-

Monday, September 26th, 2005

Aku ditengah samudera. Samudera ini pekat, hitam keungu-unguan. Samudera ini pekat, layaknya kolam madu raksasa.

Dimana dermaga??

Dimana tepian??

Dimana pantai??

Dimana bahteraku??

Maka aku sendiri,,,

Kukayuh lengan rapuhku,, sial!! Berat sekali…

Tapi, samudera ini rendah sekali. Baguslah. Entah aku berenang atau aku berjalan. Tapi tetap saja berat. Dan lelah.

Aku ditengah samudera. Tak dapat kujamah hangatnya dermaga. Tak dapat kuraba pepasir tepian pantai. Maka dimana aku esok hari? Tenggelam dingin dan sepi?

280805

-13-