Di Bawah Naungan Malam, Dan sekelebat Bayang Akan Sebuah Senyuman
Berurai jalinan debu yang tadinya tertidur nyaman di lantai kayu tua itu. Sesaat lalu tengkorak kepalaku menghantamnya keras. Kini aku sekarat. Darah menetes dari ujung hidungku. Bergulir pelan dipipiku dari kedua sudut mataku. Pula telingaku.
Nafasku terhempas berat dan satu-satu.
Berat dan satu-satu.
Satu-satu.
Satu.
Satu.
Satu.
Suara itu makin jauh dan samar.
Harum itu dan amis kematian, tercampur sempurna.
Wajah itu asing kini.
Namun tidak senyumnya, kukenal sempurna.
Dua sudut bibir berangkat naik ke pelupuk pipi yang merona - manis.
Itu senyum yang menghantamku dan mengantarku pada detik kematianku.
Itu senyum yang mengajarkanku untuk tertawa - keras kita dulu tertawa, lalu mencabut sepenuhnya dari rongga trakea ku. Itu senyum yang mengajarkan mimpi padaku – selayak terbang di langit surga katamu, lalu lukai sayapku sempurna pada pangkalnya.
Senyum itu,,darah dalam daging koyakku.
Senyum itu_ _ _ _
Tidak…tidak…
Bukan senyum itu yang menghujamkan pedang di sayap mungilku yang baru tumbuh. Ia terlahir sempurna, sesempurna oksigen di dalam darahku.
Aku terlalu mencintaimu,,hingga tak sanggup menyalahkanmu.
260805
-13-
February 9th, 2006 at 3:38 am
ini maksudnya apa ya ??
sebuah kenyataan kah ?
senyumnya syapa ?
hohoho .
jangan pedulikan komenku ini .
November 26th, 2006 at 8:06 pm
memang cinta itu terkadang begitu kuatnya sehingga membunuh mata hati dan nurani. Namun sakitnya adalah nafas kehidupan.