Untuk Pemilik Nama Pada Sebuah Nisan
Apa kabar kafan yang balut jasadmu?
Mungkin sedikit hangus disana-sini.
Apa kabar keangkuhanmu?
Mungkin ia menangis di sudut kubur kini.
Apa kabar pertanyaan itu?
Masihkah ia datang dengan gelegar suara yang dahsyat?
Masihkah mahluk menyeramkan hitam kebiru-biruan yang mengawalnya?
Apa kabar pertanyaan itu?
MAN RABBUKA?!
M A N R A B B U K A ?!
. . . . . . . . .
Apa kabar bibir dan lidahmu?
Apakah ia kelu dan membisu?
Dan apa kabar aku yang kau tinggalkan?
Mungkin aku akan selalu menangis
Mengharap kemurahan-Nya..
Agar Munkar dan Nakir didatangkan padaku
Dengan sesungging senyum di bibir mereka.
Agar Munkar dan Nakir menyapa ku ramah,
“Assalamu’alaika, ya hamba Allah.”
Agar Munkar dan Nakir menanyaiku
dengan suara yang lembut lagi bersahabat.
Allahuma as ‘aluka khusnul khatimah,,
Allahuma as ‘aluka khusnul khatimah,,
18805
-13-
June 28th, 2006 at 11:46 pm
aku menangis saat kembali mengingatnya.jantungku serasa berhenti berdegup ketika membayangkan hal itu: alam kubur kita kelak, ntah gelap yang sangat gelap, ataukah terang yang sangat terang dengan amal-amal shalih??bersama siksaan alam barzah kah, atau bersama kenikmatan istirahat panjang di bawah tanah??
lantas bagaimana kini? berapa banyak kesalahan dan dosa yang kita lakukan dalam satu hari? satu hari? berapa banyak?? dan kita telah hidup ribuan hari. mungkin juga jutaan hari. entahlah, aku tak pernah menghitungnya.juga dosa-dosa yang tak pernah luput mewarnai hari-hari kita dengan meninggalkan noda hitam di hati, tak pernah kuhitung.
mungkin karena itu banyak manusia — termasuk kita — yang lalai dalam hidupnya, lupa bahwa temannya yang paling setia kapan dan di manapun adalah maut. teman setia kita adalah maut, kawan.
yah, maut..