Re-posisi ‘ada’-ku dan ‘akhir’-ku
Sejenak lalu angin mengabarkan pada senja: “siapa bilang mahkota dari cahaya lebih indah dari kristal salju.” Sementara senja bersikukuh pada sisi gelapnya: “mahkota dari cahaya milik Mahadewi semata, dan aku singgasana Sang Dewi.” Aku mencuri dengar percakapan angin dan senja dari atap rumahku. Membuatku teringat pada sebuah lukisan dan sebait puisi, pada kisah-kisah yang harus kudefinisikan ulang. Menjabarkan gores demi gores cat minyak yang menyapa kanvas cermin. Mengurai kata demi kata, idiom yang menari dalam pendar-pendar pixel. Mereposisi ‘ada’-ku, dan ‘akhir’-ku. Mencari tahu kemana arah bangau-bangau pulang: ke jingga pada setiap senja atau kemanapun angin berhembus?
Oh ya, apakah suara hati bisa dan perlu di-dekonstruksi?
-110106-
<=13=>