Semoga bahagia
5 November 2006, hari ini kau mengakhiri masa lajangmu. Sungguh beruntung pria itu. Untungnya rasa cintaku padamu yang dulu pernah teramat sangat kini sudah jauh berkurang. Mungkin hanya tersisa sedikit serpihan mendekam di sudut. Sepanjang waktu aku belajar mengikis rasa itu, bahkan sejak pertama kali aku menyadari keberadaannya di hatiku, karena aku tahu pertautan tak mungkin terjadi.
Tadi sore akad telah dilangsungkan. Maaf aku tak dapat hadir karena suatu urusan. Tapi doa untuk kebahagiaanmu, suamimu, dan kehidupan baru kalian berdua tak lupa aku panjatkan pada Yang Maha Kuasa.
Malam ini aku terpaku di depan komputerku. Tak sengaja aku menemukan sebuah puisi tentang rasa yang pernah kumiliki dulu, di dalam sebuah folder komputerku. Sebuah puisi yang berkisah mengenai rasa putus asa, entah bagaimana caranya aku bisa memiliki cintamu. Sebuah puisi yang juga berkisah perihal ketakutan terbesar: kehilanganmu.
Apa titahMu terdengar samar, namun jauh dari anggukan kepala. Jika waktu bergulir sederu gletser maka aku tak sanggup. Seendap garis keriput di sudut mata pula aku tak sanggup. Kupinjam sepasang sayap dari Jibril. Ia tak percaya padaku katanya. Belum saatnya aku mengangkasa katanya. Kutunggu sepasang tumbuh robek belikatku, pun tak kunjung kudapati. Maka dengan apa aku membawamu pergi?
Duniaku disini, di bawah sini, maka tundukkan kepalamu sedikit saja, aku ada nun disini. Dan aku melihatmu di atas sana, kudongakan kepala kudapati setitik dirimu nun disana. Setitik dirimu disana, namun seteru matamu dengan hatiku. Kudapati jiwaku disana. Entah kau sadar entah kau tidak, yang pasti ada jiwaku disana, nun disana. Maka dengan apa aku meminangmu? Bernafas saja kita menggunakan zat yang berbeda. Zat nun disini untukku, zat nun disana bagimu.
Sibuk diriku bergumul dengan kaumku. Sedikit luka di pelipis kanan, sedikit robek daging di betis, sedikit kumal mahkotaku. Sedikit saja. Sudah kuenyahkan yang banyak itu. Kini tinggal sedikit saja. Namun sekejam waktu setiba sadarku, mahkotaku bukan cahaya, seperti milikmu. Maka dengan apa aku meminangmu? Sebongkah cahaya seperti milikmu, 100 tahun kemudian belum tentu kuperoleh. Sedang kau akan segera.
Kupinjam sepasang sayap dari Jibril. Ia tak percaya padaku katanya. Belum saatnya aku mengangkasa katanya. Maka kapan wahai Jibril waktu bagiku tiba? Sedang dia akan segera.
-230805-
Hari ini, tepatnya sore tadi, ba’da ashar. ketakutanku dulu menjelma menjadi kenyataan. Sungguh-sungguh segera, sesegera kedipan mata yang menghindari debu yang menderu. Hanya 1 tahun 2 bulan, kurang lebih, dari waktu aku menulis puisi itu, apa yang kutakuti kini menjelma nyata. Sungguh-sungguh segera, mengingat usiamu yang baru 20 tahun Agustus kemarin. Hingga kinipun mahkotaku belumlah cahaya, aku masih bernafas dengan zat nun disini, dan Jibril masih saja enggan meminjamkan sayapnya untukku. Aku kehilanganmu. Seandainya rasa itu masih seluruh, tentu enggan aku hidup untuk kemudian hari. Bagusnya rasa itu sudah enyah.
Setidaknya malam ini aku ingin sedikit mengenang, banyak pelajaran yang dapat kuambil dari lebih dari setahun masa-masaku memujamu. Sebuah pengalaman yang sangat berharga bagiku, walau mungkin sama sekali tak ada artinya bagimu. Lagi aku teringat sebuah puisi yang pernah tercipta dari masa-masa itu.
Ada keajaiban di sekelebat lalu
Karena tiap angin yang berhembus pasti mencipta sejuk
Karena tiap api yang berkobar pasti menjejak hangus
Disisi makammu aku tersenyum
"Terima kasih peri mimpi"
-Pemakaman Sebuah Puisi IV:
Terima kasih peri mimpi, 260105-
Ya,, terimakasih peri mimpi.
-=13=-
- 051106, 23.30, Pondok Gede-
Baru sempet nge-post,,
February 5th, 2007 at 8:48 pm
huah… bingung… soalnya keren banget… dalem…
..seandainya gw bisa spintar loe dlm menulis… huh… kapan…
June 27th, 2007 at 5:18 am
juz 1, thx a lot, 4 everythin’.
gw lgsg brdoa lo bkl ngdapetin yg trbaik, seindah impianmu, ssederhana inginmu, dan smulia hatimu. 1 day u’ll found her. trust Him.
July 5th, 2007 at 6:39 am
Amiin,,