Belajar Dari Tukul
Penjual pringas-pringis itu mungkin tidak menyadarinya, bahwa jalan yang diretasnya adalah jalan para legenda. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, atau mungkin seratus tahun lagi, ketika generasi telah hilang dan berganti, mereka yang menjadi tuan dari zaman itu akan mengenang penjual pringas-pringis itu sebagai orang yang menghibur ayah-ayah dan ibu-ibu mereka, ketika republik ini dilanda berbagai bencana. Mereka akan mengenang penjual pringas-pringis itu sebagai orang yang mengajarkan ayah-ayah dan ibu-ibu mereka bagaimana cara menertawai diri sendiri dan melihat kekurangan-kekurangan yang dimiliki secara arif.
Sebut saja penjual pringas-pringis itu Tukul. Ketika orang lain dengan angkuhnya menengadahkan kepala, angkuh, dan sekuat tenaga menutupi kekurangannya di depan orang lain, dia justru menjadikan kekurangan-kekurangannya (terutama dalam hal fisik) sebagai bahan tertawaan. Ya, dengan bijak dia berani menertawakan dirinya sendiri. Sungguh Tukul orang yang bijak. Hanya orang yang mau menertawakan dirinya sendirilah orang yang mampu melakukan otokritik. Tukul berkontemplasi dengan cara yang unik. Dia berkontemplasi dengan menjadikan kekurangan-kekurangannya sebagai bahan celaan. Dengan demikian dia akan lebih mudah untuk menyelam ke dalam jiwanya, mengakui dengan kerendahan hati yang teramat sangat, bahwa dia memiliki kekurangan.
Sebuah sikap yang jarang dimiliki oleh manusia dewasa ini. Ketika Manusia dewasa ini terpenjara oleh keadaan yang oleh banyak ‘ahli kontemplasi’ disebut sebagai keadaan alienasi dan/atau reifikasi, sebuah keadaan dimana manusia terasing dari kemanusiaannya. Menurut Gajo Petrovic, Guru Besar Filsafat di Universitas Zagreb, reifikasi berarti tindakan atau akibat tindakan, yang mengubah sifat, hubungan dan tindakan manusiawi menjadi sifat, hubungan dan tindakan kebendaan, yang terlepas dari pengendalian manusia. Bahkan hidup manusia justru dikendalikan olehnya. Alienasi dan reifikasi adalah alienasi, karena di dalam keduanya manusia terasing dari kediriannya dan hakikat kemanusiaannya merosot menjadi bersifat kebendaan.
Erich Fromm menilai proses keterasingan yang dialami manusia, selain bersumber pada struktur masyarakat kapitalis, namun juga oleh karena karakter sosial yang tidak produktif. Kapitalisme global membawa budaya konsumerisme pada manusia tanpa disadarinya. Korporasi-korporasi yang utamanya berorientasi pada profit, menjual mimpi-mimpi yang sama pada manusia dari semua kalangan, dari penghuni rumah-rumah mewah di perbukitan Hollywood hingga penghuni gubuk-gubuk kumuh di tengah-tengah hutan beton Jakarta. Mimpi-mimpi itu adalah kemewahan, kecantikan atau ketampanan, segala sesuatu yang berorientasi pada keindahan fisikal.
Iklan-iklan dibuat semenarik mungkin, membujuk orang untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Iklan-iklan itu menampilkan pencitraan yang menggiurkan dari produknya. Bintang iklan yang macho di tampilkan pada kebanyakan iklan rokok, dan sebagainya, seolah-olah jika kita menggunakan produknya kita pun akan menjadi macho dan seterusnya. Konsumsi, perlahan tapi pasti dijadikan tujuan, mengkonsumsi demi mengkonsumsi itu sendiri. Dengan mengkonsumsi manusia menciptakan ilusi di dalam dirinya bahwa dirinya bahagia. Padahal sesungguhnya manusia itu pasif dan bosan.
Iklan-iklan ini yang kemudian menumbuhkembangkan, apa yang disebut oleh para posmodern sebagai imagologi, dimana realitas dikalahkan oleh image, komoditi barang digeser oleh komoditi budaya, dan substansi dikalahkan oleh sensasi. Berapa banyak dari kita yang merasa menggunakan sepatu reebok itu keren. Berapa banyak dari kita yang ingin menghadiahi pacar atau isteri kita lingerie Victoria’s Secret. Berapa banyak dari kita yang mendandani diri kita dengan tas Louis Viton, parfum Estee Lauder, kacamata Oakley, mobil Jaguar, jam tangan Rolex, semata-mata hanya karena image ‘wah’ yang telah diciptakan dan dipertahankan oleh produk-produk tersebut.
Yang paling menyedihkan dari keadaan ini sesungguhnya adalah ketika seseorang kehilangan harta yang tertinggi dan paling berharga, yang menurut seorang spiritualis India, Shrii P. R. Sarkar disebut devotional sentiment : suatu sentimen yang berfungsi untuk mentransformasikan penghayatan atas dunia material (the sense of worldly existence). Kita pernah mendengar hal-hal semacam ini dalam dunia selebritis kita. Seorang selebritis tidak mengakui ayah kandungnya, seorang selebritis tidak mengakui anak darah dagingnya. Malin Kundang yang tampaknya hidup kembali di zaman modern. Sungguh menyedihkan.
Kembali ke Tukul (saya jadi teringat quote-nya Tukul: Kembali ke Laptop J), saya melihat kemurnian sikapnya menjadikan dia seorang manusia yang sejati. Giginya yang berlebih tidak lantas membuatnya ingin mengubahnya menjadi semenawan milik Gunawan. Kumisnya yang bagi kebanyakan orang aneh tidak lantas membuatnya minder lalu mencukurnya. Bahasa Inggrisnya belepotan, namun tetap sering meluncur dari mulutnya tanpa malu-malu. Kekurangan-kekurangan yang dimilikinya tidak lantas membuat Tukul terasing dari lingkungannya, terutama dari dirinya. Tukul tidak malu-malu mengakui keluarganya yang (maaf) memang benar-benar orang kampung. Ayahnya dan kakaknya bahkan sempat diajak untuk tampil di talkshow yang mengangkat namanya, ’Empat Mata’. Bisa dibilang, devotional sentiment itu masih tertanam di dalam diri Tukul.
Mungkin banyak orang yang mengatakan bahwa Tukul memiliki rasa percaya diri yang berlebih, tetapi sesungguhnya tidak hanya itu, melainkan juga ’kemanusiaan’nya yang ’sejati’, tidak mengalami alienasi ataupun perpecahan eksistensial. Hanya bila manusia memahami situasi, perpecahan eksistensial dalam dirinya dan merealisasikan kemampuan dan potensinya, ia mampu berhasil dengan menjadi dirinya sendiri (to be himself) dan bagi dirinya sendiri..
Tukul belajar memahami situasi (dirinya) dengan cara menertawakan dirinya. Dengan demikian dia memahami betul dirinya dengan segala kekurangannya. Ketakutan manusia akan teralienasi dari lingkungannya, membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang tanpa disadarinya juga membuat dirinya teralienasi dari dirinya sendiri. Tukul tidak takut teralienasi dari lingkungannya. Dunia selebritis yang galmor tidak lantas membuatnya minder akan kekurangan-kekurangannya. Tukul juga tidak teralienasi dari dirinya sendiri.
Seperti yang ditekankan oleh Fromm, bahwa orang yang menjadi dirinya sendiri justru manusia yang dapat menjalankan proses sosialisasi secara mantap tanpa kehilangan identitasnya. Itulah citra manusia utuh tanpa dimensi sosial. Dan itulah Tukul, manusia yang berhasil menjadi dirinya sendiri dan mempertahankan identitasnya sebagai ‘wong ndeso’. Tukul justru lebih manusia dibandingkan dengan mereka yang berjas berdasi bermobil mewah berbahasa inggris lancar bergigi rapih berkumis klimis namun mencuri uang rakyat. Orang yang seperti ini adalah orang yang terasing dari kemanusiaannya, bahkan lebih pastas disebut sebagai binatang.
Arief Ilham Ramadhan