Janur Kuning dan Requiem

August 8th, 2007 by fighterpilot

Janur kuning adalah sebuah tanda berkabung bagi mereka yang gagal menyanding dan tidak disanding. Dan kidung cinta layaknya requiem yang mengantar menuju kepedihan abadi.

041106
-hari di mana janur kuning ditegakkan dan requiem dinyanyikan,,haha-
-13-

Persahabatan Yang Sederhana

May 27th, 2007 by fighterpilot

Hmm,,gw lagi iseng aja buka kotak message2 lama di FS,, trus gw nemuin yg di bawah ini,, tentang sebuah persahabatan sederhana yang kayaknya agak susah buat nemu yang kaya’ gini lagi. Sok di baca,, tapi harus diingat message ini tertanggal february 2007,,udah 3-4 bulan lalu,,jadi sedikit banyak udah berubah keadaannya,,seperti kata-kata: "belakangan ini hari2 gw penuh canda tawa,,tapi gw ngerasa kosong. hanya rutinitas berkumpul untuk kemudian tertawa", sekarang alhamdulillah gw gak ngerasa kosong lagi. Hari-hari gw penuh canda, dan semua bermakna buat gw. Dan kegiatan kumpul-kumpul pun tak sekadar rutinitas lagi, tapi sebuah kebutuhan.

Tapiii…gw masih terus nyari temen yang seperti tersurat di bawah ini,,,

———————————————————————————-

Date: Sunday, 11 February, 2007 7:12 PM Subject: Re: ——HUAY—– Message:

Arief Ilham wrote:
"aku ingin bertemu dengan orang yang ku kenal
bicara dengan bahasaku. yang tak dimengerti manusia
aku ingin bertemu dengan orang yang ku kenal
yang mengenalku. yang memperkenalkanku pada semesta
aku ingin bertemu dengan orang yang ku kenal
yang mengenali hidup pada yang tak pernah mati. yang membuat ku percaya dengan hati
aku ingin bertemu dengan orang yang ku kenal
aku ingin berceloteh panjang. bukan tentang runtuhnya peradaban, karya hebat, rumitnya keluarga, atau sekedar tetek bengek perkuliahan.
aku bosan.
aku ingin bercerita tentangku. tentang mimpi yang jujur aku sudah tak punya lagi
aku ingin bertemu dengan orang yang ku kenal
yang selalu membuatku lupa. yang membawaku pada taman dongeng tanpa konsep ideal dan definisi kesuksesan
aku ingin bertemu dengannya. sekali saja" (bunga)

——————————————————

to be honest,,, gw juga sama,,, :) gw lupa caranya bermimpi,, even temen gw tambah banyak dan bertambah banyak, tapi gw blom nemuin yg bisa diajak berceloteh perihal bintang, langit, mimpi2 yang absurd dan -kayak kata lo: tanpa konsep ideal, layaknya taman dongeng-..

hmm,,menjelang kelulusan gini pikiran gw kalut sama tuntutan kesuksesan yang didefinisikan bokap nyokap,, gw pengen mulai secara sederhana, dari bawah dan pelan2 - dengan segala pertimbangannya, bonyok pengen gw langsung ngebut..cari kerja yang bisa bikin mapan.

pikiran gw dihijacked sama kuliah, skripsi, kerjaan organisasi,,,udah 6 bln- 1 tahun belakangan ini. baru aja kemaren gw liat langit cerah banget, bintangnya banyak banget, gw baru sadar gw udah gak pernah liat langit malam lagi entah sejak kapan,, kesibukan gw bikin gw lupa sama hobi2 sederhana gw yg dulu.

belakangan ini hari2 gw penuh canda tawa,,tapi gw ngerasa kosong. hanya rutinitas berkumpul untuk kemudian tertawa. ternyata para penyair itu benar: sunyi itu megah. aha..itu yg gw butuh, kesunyian dan beberapa teman - beberapa saja yang bisa,,yeah,,seperti kata lo:
aku ingin bertemu dengan orang yang ku kenal
yang selalu membuatku lupa. yang membawaku pada taman dongeng tanpa konsep ideal dan definisi kesuksesan.
dulu,,,dulu banget,,,orang itu salah satunya lo,,hehehe.. sekarang susah,, ;p

yaudah,,sukses w/ur life,,


———————————————————————————

hehe.. rief, maap yah br bls skrg. stelah skian lama, gw smpt mutusin g mw buka FS lg. "takut brtmu dgn hal-hal yg g ingin gw tmuin". tp akhirnya gw buka jg d..
stlah lo ngirim ni surat, gmn prkmbangannya? udh ktmu orgnya?
sbnrnya ada yg gw tmuin, tp sygnya blm tentu blh gw tmuin sering". hehe..
tp gpp. wat can i do 4 u?
gw kangen pgn ngobrol.
kmrn wkt ktmu lo d klas, gw exited bgt. tp lo lg asik ngobrol yah sm citra, hehe.. jd gw brkutat lg deh.
rip, akhir" ini gw makin nmuin apa yg gw sneng lakuin, apa yg bikin jiwa gw bebas, apa yg gw yakinin bahwa gw pantes memanggil nama gw ‘bunga’ , apa yg bikin hati ini tenang dgn hangatnya kenyamanan. tp ini rahasia gw rif. krn trnyata dlm dunia gw, utk bnr" bebas lo hrus mnukarnya dgn kpura"an.
tp ntar deh, kpn" klo qta ngobrol y.
tp kpn rief? hehe..
kok jd gw yg bawel y?
kpn yuk, gw jg pgn ngliat bintang. qta brceloteh panjang pd langit yg ga habis trbentang di atas kepala qta. kpn yuk rief..

Tentang Rumah Setelah Ajal

May 22nd, 2007 by fighterpilot

Tentang Rumah Setelah Ajal

Oleh Remy Sylado

Manajer bisnis properti di gedung pameran

Menawarkan rumah ideal di pinggir Jakarta

Malaikat di pintu luar mengingatkan

Lebih baik menyiapkan rumah di surga

Tuhan Sembilan Senti

May 17th, 2007 by fighterpilot

Tuhan Sembilan Senti

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia
adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan
bagi orang yang tak merokok, Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja
merokok, di kantor pegawai merokok, di cabinet menteri merokok, di reses
parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi
merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik
modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam
firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok, Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang
kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan
kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket
penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival
merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya
kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi
orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan
baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung
Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di
diskotik para pengunjung merokok, Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak
tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita
di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip
asbak rokok,

Duduk kita di
tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS
sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang
yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita
ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah
sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa
ketularan kena,

Di puskesmas
pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti
pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan
ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main
tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket
badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia
pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil
12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15
tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah
semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat
siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa,
berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang
sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan
mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu,
hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari
telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan
senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa
dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita
dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan
tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan
pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan
ashabus syimaal?

Asap rokok
mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut
tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan
ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak
tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya
ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam
daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada
pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu
dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini
direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada
alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR
untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya
jadi dimakruh-makruhkan, jangan, Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar
perbandingan ini. Banyak yang
diam-diam membunuh tuhan-tuhan
kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka
berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin
pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak
ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat
ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak
ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan
jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas
berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu
wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub
pada tuhan-tuhan ini, karena orang
akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen
asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri
kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Belajar Dari Tukul

April 24th, 2007 by fighterpilot

            Penjual pringas-pringis itu mungkin tidak menyadarinya, bahwa jalan yang diretasnya adalah jalan para legenda. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, atau mungkin seratus tahun lagi, ketika generasi telah hilang dan berganti, mereka yang menjadi tuan dari zaman itu akan mengenang penjual pringas-pringis itu sebagai orang yang menghibur ayah-ayah dan ibu-ibu mereka, ketika republik ini dilanda berbagai bencana. Mereka akan mengenang penjual pringas-pringis itu sebagai orang yang mengajarkan ayah-ayah dan ibu-ibu mereka bagaimana cara menertawai diri sendiri dan melihat kekurangan-kekurangan yang dimiliki secara arif.

            Sebut saja penjual pringas-pringis itu Tukul. Ketika orang lain dengan angkuhnya menengadahkan kepala, angkuh, dan sekuat tenaga menutupi kekurangannya di depan orang lain, dia justru menjadikan kekurangan-kekurangannya (terutama dalam hal fisik) sebagai bahan tertawaan. Ya, dengan bijak dia berani menertawakan dirinya sendiri. Sungguh Tukul orang yang bijak. Hanya orang yang mau menertawakan dirinya sendirilah orang yang mampu melakukan otokritik. Tukul berkontemplasi dengan cara yang unik. Dia berkontemplasi dengan menjadikan kekurangan-kekurangannya sebagai bahan celaan. Dengan demikian dia akan lebih mudah untuk menyelam ke dalam jiwanya, mengakui dengan kerendahan hati yang teramat sangat, bahwa dia memiliki kekurangan.

            Sebuah sikap yang jarang dimiliki oleh manusia dewasa ini. Ketika Manusia dewasa ini terpenjara oleh keadaan yang oleh banyak ‘ahli kontemplasi’ disebut sebagai keadaan alienasi dan/atau reifikasi, sebuah keadaan dimana manusia terasing dari kemanusiaannya. Menurut Gajo Petrovic, Guru Besar Filsafat di Universitas Zagreb, reifikasi berarti tindakan atau akibat tindakan, yang mengubah sifat, hubungan dan tindakan manusiawi menjadi sifat, hubungan dan tindakan kebendaan, yang terlepas dari pengendalian manusia. Bahkan hidup manusia justru dikendalikan olehnya. Alienasi dan reifikasi adalah alienasi, karena di dalam keduanya manusia terasing dari kediriannya dan hakikat kemanusiaannya merosot menjadi bersifat kebendaan.

            Erich Fromm menilai proses keterasingan yang dialami manusia, selain bersumber pada struktur masyarakat kapitalis, namun juga oleh karena karakter sosial yang tidak produktif. Kapitalisme global membawa budaya konsumerisme pada manusia tanpa disadarinya. Korporasi-korporasi yang utamanya berorientasi pada profit, menjual mimpi-mimpi yang sama pada manusia dari semua kalangan, dari penghuni rumah-rumah mewah di perbukitan Hollywood hingga penghuni gubuk-gubuk kumuh di tengah-tengah hutan beton Jakarta. Mimpi-mimpi itu adalah kemewahan, kecantikan atau ketampanan, segala sesuatu yang berorientasi pada keindahan fisikal.

            Iklan-iklan dibuat semenarik mungkin, membujuk orang untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Iklan-iklan itu menampilkan pencitraan yang menggiurkan dari produknya. Bintang iklan yang macho di tampilkan pada kebanyakan iklan rokok, dan sebagainya, seolah-olah jika kita menggunakan produknya kita pun akan menjadi macho dan seterusnya. Konsumsi, perlahan tapi pasti dijadikan tujuan, mengkonsumsi demi mengkonsumsi itu sendiri. Dengan mengkonsumsi manusia menciptakan ilusi di dalam dirinya bahwa dirinya bahagia. Padahal sesungguhnya manusia itu pasif dan bosan.

            Iklan-iklan ini yang kemudian menumbuhkembangkan, apa yang disebut oleh para posmodern sebagai imagologi, dimana realitas dikalahkan oleh image, komoditi barang digeser oleh komoditi budaya, dan substansi dikalahkan oleh sensasi. Berapa banyak dari kita yang merasa menggunakan sepatu reebok itu keren. Berapa banyak dari kita yang ingin menghadiahi pacar atau isteri kita lingerie Victoria’s Secret. Berapa banyak dari kita yang mendandani diri kita dengan tas Louis Viton, parfum Estee Lauder, kacamata Oakley, mobil Jaguar, jam tangan Rolex, semata-mata hanya karena image ‘wah’ yang telah diciptakan dan dipertahankan oleh produk-produk tersebut.

             Yang paling menyedihkan dari keadaan ini sesungguhnya adalah ketika seseorang kehilangan harta yang tertinggi dan paling berharga, yang menurut seorang spiritualis India, Shrii P. R. Sarkar disebut devotional sentiment : suatu sentimen yang berfungsi untuk mentransformasikan penghayatan atas dunia material (the sense of worldly existence). Kita pernah mendengar hal-hal semacam ini dalam dunia selebritis kita. Seorang selebritis tidak mengakui ayah kandungnya, seorang selebritis tidak mengakui anak darah dagingnya. Malin Kundang yang tampaknya hidup kembali di zaman modern. Sungguh menyedihkan.

            Kembali ke Tukul (saya jadi teringat quote-nya Tukul: Kembali ke Laptop J), saya melihat kemurnian sikapnya menjadikan dia seorang manusia yang sejati. Giginya yang berlebih tidak lantas membuatnya ingin mengubahnya menjadi semenawan milik Gunawan. Kumisnya yang bagi kebanyakan orang aneh tidak lantas membuatnya minder lalu mencukurnya. Bahasa Inggrisnya belepotan, namun tetap sering meluncur dari mulutnya tanpa malu-malu. Kekurangan-kekurangan yang dimilikinya tidak lantas membuat Tukul terasing dari lingkungannya, terutama dari dirinya. Tukul tidak malu-malu mengakui keluarganya yang (maaf) memang benar-benar orang kampung. Ayahnya dan kakaknya bahkan sempat diajak untuk tampil di talkshow yang mengangkat namanya, ’Empat Mata’. Bisa dibilang, devotional sentiment itu masih tertanam di dalam diri Tukul.

            Mungkin banyak orang yang mengatakan bahwa Tukul memiliki rasa percaya diri yang berlebih, tetapi sesungguhnya tidak hanya itu, melainkan juga ’kemanusiaan’nya yang ’sejati’, tidak mengalami alienasi ataupun perpecahan eksistensial. Hanya bila manusia memahami situasi, perpecahan eksistensial dalam dirinya dan merealisasikan kemampuan dan potensinya, ia mampu berhasil dengan menjadi dirinya sendiri (to be himself) dan bagi dirinya sendiri..

            Tukul belajar memahami situasi (dirinya) dengan cara menertawakan dirinya. Dengan demikian dia memahami betul dirinya dengan segala kekurangannya. Ketakutan manusia akan teralienasi dari lingkungannya, membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang tanpa disadarinya juga membuat dirinya teralienasi dari dirinya sendiri. Tukul tidak takut teralienasi dari lingkungannya. Dunia selebritis yang galmor tidak lantas membuatnya minder akan kekurangan-kekurangannya. Tukul juga tidak teralienasi dari dirinya sendiri.

            Seperti yang ditekankan oleh Fromm, bahwa orang yang menjadi dirinya sendiri justru manusia yang dapat menjalankan proses sosialisasi secara mantap tanpa kehilangan identitasnya. Itulah citra manusia utuh tanpa dimensi sosial. Dan itulah Tukul, manusia yang berhasil menjadi dirinya sendiri dan mempertahankan identitasnya sebagai ‘wong ndeso’. Tukul justru lebih manusia dibandingkan dengan mereka yang berjas berdasi bermobil mewah berbahasa inggris lancar bergigi rapih berkumis klimis namun mencuri uang rakyat. Orang yang seperti ini adalah orang yang terasing dari kemanusiaannya, bahkan lebih pastas disebut sebagai binatang.

Arief Ilham Ramadhan

Pada Saat Aku Mengingat Senyummu

April 8th, 2007 by fighterpilot

Layaknya kuda yang sedang bermain di padang yang luas
Berlarian ke sana kemari sambil mengukir jejak demi jejak
Sejenak kemudian terdiam sambil memandang pelangi
Mengguman doa
Lalu kembali ke istal dengan penuh damai

Seperti itulah kata-kata dalam benakku
Menari dengan riangnya sambil melompat dan bertepuk tangan
Sejenak kemudian berangkulan seraya menjalin rasa
Menggumam doa
Lalu berlabuh membait sebuah puisi

Pada saat aku mengingat senyummu
Siang tadi..

080407
-13-

– Untuk siapa ya?? yah,,yang pasti sih untuk yang saat ini juga sedang kuingat senyumnya,, hehe,, -

Semoga bahagia

January 30th, 2007 by fighterpilot

5 November 2006, hari ini kau mengakhiri masa lajangmu. Sungguh beruntung pria itu. Untungnya rasa cintaku padamu yang dulu pernah teramat sangat kini sudah jauh berkurang. Mungkin hanya tersisa sedikit serpihan mendekam di sudut. Sepanjang waktu aku belajar mengikis rasa itu, bahkan sejak pertama kali aku menyadari keberadaannya di hatiku, karena aku tahu pertautan tak mungkin terjadi.

Tadi sore akad telah dilangsungkan. Maaf aku tak dapat hadir karena suatu urusan. Tapi doa untuk kebahagiaanmu, suamimu, dan kehidupan baru kalian berdua tak lupa aku panjatkan pada Yang Maha Kuasa.

Malam ini aku terpaku di depan komputerku. Tak sengaja aku menemukan sebuah puisi tentang rasa yang pernah kumiliki dulu, di dalam sebuah folder komputerku. Sebuah puisi yang berkisah mengenai rasa putus asa, entah bagaimana caranya aku bisa memiliki cintamu. Sebuah puisi yang juga berkisah perihal ketakutan terbesar: kehilanganmu.

Apa titahMu terdengar samar, namun jauh dari anggukan kepala. Jika waktu bergulir sederu gletser maka aku tak sanggup. Seendap garis keriput di sudut mata pula aku tak sanggup. Kupinjam sepasang sayap dari Jibril. Ia tak percaya padaku katanya. Belum saatnya aku mengangkasa katanya. Kutunggu sepasang tumbuh robek belikatku, pun tak kunjung kudapati. Maka dengan apa aku membawamu pergi?

Duniaku disini, di bawah sini, maka tundukkan kepalamu sedikit saja, aku ada nun disini. Dan aku melihatmu di atas sana, kudongakan kepala kudapati setitik dirimu nun disana. Setitik dirimu disana, namun seteru matamu dengan hatiku. Kudapati jiwaku disana. Entah kau sadar entah kau tidak, yang pasti ada jiwaku disana, nun disana. Maka dengan apa aku meminangmu? Bernafas saja kita menggunakan zat yang berbeda. Zat nun disini untukku, zat nun disana bagimu.

Sibuk diriku bergumul dengan kaumku. Sedikit luka di pelipis kanan, sedikit robek daging di betis, sedikit kumal mahkotaku. Sedikit saja. Sudah kuenyahkan yang banyak itu. Kini tinggal sedikit saja. Namun sekejam waktu setiba sadarku, mahkotaku bukan cahaya, seperti milikmu. Maka dengan apa aku meminangmu? Sebongkah cahaya seperti milikmu, 100 tahun kemudian belum tentu kuperoleh. Sedang kau akan segera.

Kupinjam sepasang sayap dari Jibril. Ia tak percaya padaku katanya. Belum saatnya aku mengangkasa katanya. Maka kapan wahai Jibril waktu bagiku tiba? Sedang dia akan segera.

-230805-

Hari ini, tepatnya sore tadi, ba’da ashar. ketakutanku dulu menjelma menjadi kenyataan. Sungguh-sungguh segera, sesegera kedipan mata yang menghindari debu yang menderu. Hanya 1 tahun 2 bulan, kurang lebih, dari waktu aku menulis puisi itu, apa yang kutakuti kini menjelma nyata. Sungguh-sungguh segera, mengingat usiamu yang baru 20 tahun Agustus kemarin. Hingga kinipun mahkotaku belumlah cahaya, aku masih bernafas dengan zat nun disini, dan Jibril masih saja enggan meminjamkan sayapnya untukku. Aku kehilanganmu. Seandainya rasa itu masih seluruh, tentu enggan aku hidup untuk kemudian hari. Bagusnya rasa itu sudah enyah.

Setidaknya malam ini aku ingin sedikit mengenang, banyak pelajaran yang dapat kuambil dari lebih dari setahun masa-masaku memujamu. Sebuah pengalaman yang sangat berharga bagiku, walau mungkin sama sekali tak ada artinya bagimu. Lagi aku teringat sebuah puisi yang pernah tercipta dari masa-masa itu.

Ada keajaiban di sekelebat lalu

Karena tiap angin yang berhembus pasti mencipta sejuk

Karena tiap api yang berkobar pasti menjejak hangus

Disisi makammu aku tersenyum

"Terima kasih peri mimpi"

-Pemakaman Sebuah Puisi IV:

Terima kasih peri mimpi, 260105-

Ya,, terimakasih peri mimpi.

-=13=-

- 051106, 23.30, Pondok Gede-

Baru sempet nge-post,,

Layaknya aku berdoa, maka Kau menjawab.

February 6th, 2006 by fighterpilot

Layaknya aku berdoa, maka Kau menjawab.

Ini kan jalannya, 4JJI? Jalan sejuta bintang yang dulu pernah ku pinta. Jalan yang tegak di pugar nyawa-nyawa waktu pengorbanan. Sebuah jalan yang menghantarkan aroma surga terbaui oleh hela nafas rapuhku.

Iya kan 4JJI, ini kan jalan yang ku pinta dulu. Jalan yang setapaknya disusun oleh ribuan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Sebuah jalan yang menghadirkan senyum Rasul-Mu dekat di pupil mataku.

Iya kan 4JJI, ini kan jalan yang ku pinta dulu. Jalan yang merelakan degup jantungnya dimabuki asmara asma-Mu. Jalan yang tiap inci-nya disesaki syukur dan sujudku.

Layaknya aku berdoa, maka Kau menjawab.

Untuk yang satu ini,,,aku mohon dengan teramat sangat. Untuk cinta dengan ‘c’ kecil, demi Cinta dengan ‘C’ besar. Aku mohon dengan teramat sangat.

Layaknya aku berdoa, maka Kau menjawab.

-=13=-
060206
( Dekatkan aku pada yang mendekatkanku pada-Mu, Jauhkan aku dari yang menjauhkanku dari-Mu … 4JJI,,aku takut,,)

Re-posisi ‘ada’-ku dan ‘akhir’-ku

January 11th, 2006 by fighterpilot

Sejenak lalu angin mengabarkan pada senja: “siapa bilang mahkota dari cahaya lebih indah dari kristal salju.” Sementara senja bersikukuh pada sisi gelapnya: “mahkota dari cahaya milik Mahadewi semata, dan aku singgasana Sang Dewi.” Aku mencuri dengar percakapan angin dan senja dari atap rumahku. Membuatku teringat pada sebuah lukisan dan sebait puisi, pada kisah-kisah yang harus kudefinisikan ulang. Menjabarkan gores demi gores cat minyak yang menyapa kanvas cermin. Mengurai kata demi kata, idiom yang menari dalam pendar-pendar pixel. Mereposisi ‘ada’-ku, dan ‘akhir’-ku. Mencari tahu kemana arah bangau-bangau pulang: ke jingga pada setiap senja atau kemanapun angin berhembus?

Oh ya, apakah suara hati bisa dan perlu di-dekonstruksi?

-110106-

<=13=>

-Janji pada puisi-

January 11th, 2006 by fighterpilot

2002 pertengahan ;

Detak pada detik, asimilasi pada janji, janji pada misteri, tak ada yang tahu pasti.

2003 pertengahan – 2005 akhir ;

Solitonisasi lingkar kecilku, terjebak dalam labirin Sang Puteri. Cinta sesuatu yang temporary? Mungkin….karena yang abadi hanya Dia.

2005 akhir ;

Kudefinisikan dengan sangat hati-hati. Pada lingkar kecilku, pada janji, dan pada misteri. Tak ada yang tahu pasti…juga jiwa, apalagi puisi.

-050106-

<=13=>