Suatu malam, iseng aku bertanya pada Bunda, “Bunda, gimana kalo nanti misalnya aku memperistri wanita buta?” “Ah, jangan donk! Kamu ini aneh-aneh saja!”, jawab Bunda tanpa bisa menyembunyikan kekagetannya atas pertanyaanku.
Suatu malam dilain waktu, kembali aku iseng bertanya pada Bunda, “Bunda, gimana kalo misalnya aku menikahi anak dari ibu yang pelacur dan ayah yang pembunuh?” Lagi-lagi tanggapan miring seperti dulu yang kuterima.
Bunda tidak rela anaknya yang tampan ini , bermasa depan terbilang cerah, keturunan keluarga baik-baik yang hidup dilingkungan sosial bermartabat, memiliki istri yang “cacat”. Bunda tak pernah berhenti menilai sesuatu dari aksesoris pembungkusnya. Aku harus cari istri yang cantik katanya. Aku harus cari istri yang kaya katanya. Aku harus cari istri yang pintar katanya – pintar bagi bunda adalah sebatas ijazah kuliah. Aku harus cari istri anak orang terpandang katanya. Aku bilang itu tidak mungkin, bunda bilang itu mungkin. “Oom kamu saja bisa”, Bunda mencari pembenaran. – Oom ku orang rantau miskin yang dikejar-kejar anak salah satu pejabat Orde Baru – tentunya kaya raya - yang cantik jelita, dan akhirnya mereka menikah-.
Bunda, entah kapan Bunda sadar, bahwa cinta sebenarnya cukup untuk cinta. Cinta tidak pernah mengenal rupiah ataupun dolar. Cinta tidak paham apa itu cantik atau tampan. cinta tidak punya syarat apa-apa untuk dicintai. Cinta hanya memberi. Cinta tak meminta ongkos pada kita. Aku tak butuh apa-apa darinya. Jika aku sudah cinta, mau dibilang giginya ompong kek, mau dibilang buntelan kentut kek, tetap saja dia cantik dimataku. Aku tak peduli jika ia anak seorang pembantu. Bahkan, aku tak peduli jika ia sudah tidak lagi perawan.
Bunda, seperti cinta kita pada Tuhan. Pernahkah kita melihat seperti apa wajah-Nya? Pernahkah bunda dikasih berlian secara langsung, menerimanya langsung dari tangan Tuhan ? dari mana Bunda tahu bahwa Tuhan yang selama ini memberi kita makan? Darimana Bunda tahu bahwa Tuhan itu benar-benar ada? Jangan-jangan Tuhan hanya ada dalam imaji kita? Lalu mengapa kita tetap mencintainya? Mengapa kita tetap menangis berkeluh kesah dan memohon sesuatu padanya? Karena cinta itu buta, Bunda. Cinta hidup di dalam hati, bukan logika. Cinta, seperti halnya Tuhan, tak butuh alasan untuk dipertanyakan eksistensinya.
Bunda, Cinta tidak dikenal oleh indera kita. Mata kita tak dapat melihatnya. Telinga kita tak dapat mendengar suara bisikannya. Kulit kita tak dapat merabanya. Hidung kita tak dapat membauinya. Lidah kita tak dapat merasakannya. Bunda, cinta itu ada didalam hati, di palungnya yang paling dalam. Bukankah Rumi telah mengatakannya pada kita bahwa mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan? Maka buat apa kita mencari sesuatu dengan mata kita, toh kelak yang akan kita dapatkan hanya 1/70 nya saja dari kebenaran yang kita cari. Jadi Bunda, tak usah Bunda khawatirkan dengan siapa kelak anakmu ini akan berjodoh. Jika aku menerimanya apa adanya, maka tak ada alasan bagiku untuk tidak bahagia. Bukankah itu yang Bunda harapkan selama ini, agar anak Bunda ini bahagia kelak? Aku hanya minta satu hal dari Bunda, selalu do’akan aku agar cintaku pada seseorang atau sesuatu, tidak melebihi cintaku pada Tuhanku. Semoga kita selalu dalam naungannya ya Bunda,,,Amiin,,,
September ‘05